KOMIK LOKAL DAN ANTISIPASI 2004
Setelah sempat vakum beberapa lama, sesi diskusi pengajian komik
mulai diadakan kembali pada Rabu, 17 Maret yang lalu. Untuk pertemuan
awal di tahun 2004 ini tidak ditentukan tema khusus, tetapi lebih
pada pemanasan forum diskusi serta introduksi buku "Tentang Komik:
Resume diskusi pengajian komik dkv" yang selesai dijadikan bentuk
buku awal Maret yang lalu.
Hadir pada sesi ini, Oyas, Dee Dee, Fattah dan Dyotami. Dari dkv
ada Alva, saya, Beny, Tyo dan kemudian menyusul Pak Pri dan Guntur.
Dan meski tidak memiliki agenda khusus, pembicaraan kemudian
mengarah pada kondisi komik dan penerbit lokal serta apa yang
dapat dilakukan komik lokal di 2004.
Perbincangan dibuka oleh Oyas yang bercerita tentang rencana
penerbit MQ yang hendak mengalihkan penerbitan komiknya dari
bentuk buku menjadi majalah. Satu langkah yang tidak biasa,
mengingat pengalaman penerbitan komik lokal dalam bentuk
majalah dan tabloid tampaknya
selalu mengalami kendala yang cukup berat. Tetapi menurut
Oyas, langkah ini diambil dengan beberapa pertimbangan.
Pertama adalah dalam sebuah industri (dalam hal ini adalah
industri komik) ada lima hal yang penting untuk diperhatikan:
marketing, marketing, marketing, marketing dan content.
Marketing menjadi hal penting karena dalam industri merupakan
indikasi keberhasilannya. Dan marketing sendiri memiliki
unsur-unsur yang cukup rumit. Misalkan dari sisi cash flow
atau aliran dana masuk dan keluar yang menjadi penggerak
industri selain adanya unsur distribusi, mafia
pasar (grup media yang kuat dan memiliki `wilayah'
kekuasaannya sendiri-sendiri), menjaga loyalitas agen-agen
pemasaran serta penetapan profit margin yang sangat
bervariasi antar toko-toko buku yang dirasakan masih terlalu tinggi.
Kedua adalah format majalah memungkinkan keuntungan tidak
hanya bersandar semata-mata pada faktor penjualan, tetapi
juga ditopang oleh faktor iklan dan juga kerjasama sponsor
dalam bentuk lain. Berbeda dengan format buku/komik yang
rata-rata sepenuhnya ditopang faktor penjualan.
Ketiga, format majalah memungkinkan perputaran/sirkulasi
yang lebih cepat dan teratur. Misalkan dengan penerbitan
dwi mingguan maka distribusi akan dapat segera terlihat
secara rutin, mengingat umur majalah yang tidak sepanjang
buku karena ada unsur waktu yang sedikit mengikat. Meskipun
hal ini akan `memaksa' pekerjaan yang berat untuk mampu
menjaga rutinitas dan kualitas penerbitan dengan skedul
dan deadline yang teratur.
Sepanjang tahun 2003 hingga awal 2004 juga memperlihatkan
beberapa fenomena menarik. Lini komik lokal tampaknya
semakin mendapat perhatian, dengan makin semaraknya
keberadaan komik lokal di pasaran melalui beragam penerbit,
baik besar maupun kecil. Pemain-pemain seperti Elexmedia
dan Mizan kini juga di'dukung' penerbit-penerbit alternatif
dalam penerbitan komik lokalnya.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah menilik hal yang
terjadi pada penerbit M&C yang tahun lalu begitu bersemangat
menerbitkan lini komik lokalnya, tetapi kemudian seakan
berkurang. Dan ini menarik untuk menjadi bahan telaah
khusus. Saat awal penerbitan komik lokal di era 1990-an,
hal yang marak diperbincangkan selain hubungan komikus
dan penerbit adalah bahwa salah satu kendala yang dihadapi
komik lokal adalah konsistensi komikusnya serta kurangnya
faktor distribusi dan promosi. Yang kemudian menjadi
`pertanyaan' dari apa yang dihadapi M&C adalah ketiga
unsur di atas (konsistensi, promosi dan distribusi)
tampaknya bukan menjadi masalah, terutama faktor promosi
karena M&C telah mengadakan launching besar-besaran untuk
lini komik lokalnya. Tampaknya yang menjadi faktor
pertimbangan yang cukup penting adalah perlu juga
memperhatikan kemauan pasar sebagai penerima produk.
Bicara tentang pasar negeri ini memang terbilang susah.
Susah untuk ditentukan dan ditebak maunya. Bisa dikatakan
selalu penuh dengan kejutan dan terkadang mengundang keheranan
(seperti yang diungkapkan Terence Choi maupun Kimura Tadao saat
mengetahui format majalah komik tidak terlalu berhasil di sini).
Dari diskusi yang terjadi ada beberapa pertimbangan yang
dijadikan hipotesis untuk mampu menjual dalam pasar negeri sendiri.
Pertama adalah pertimbangan antara kualitas dan kuantitas.
Ada yang berpendapat bahwa dengan harga yang sama dengan
kualitas yang lebih (misalkan buku dengan halaman sedikit
tetapi tampil full color dan cetakan baik) akan mampu
bersaing dan menarik pembaca seperti halnya yang lebih
menekankan pada faktor kuantitas (terbit hitam putih
dengan halaman yang lebih tebal, dengan harga yang sama
dengan yang terbit berwarna tadi). Tetapi tampaknya
mayoritas pembaca komik masih condong pada unsur kuantitas tadi,
biarlah mendapat kualitas yang `biasa' tetapi lebih puas
membaca karena komiknya lebih tebal.
Kedua adalah masalah klasik: content & storytelling. Dapat
dikatakan bahwa dua poin ini merupakan nyawa dari komik
sehingga penting untuk mendapat perhatian paling tinggi.
Sebagus apapun visualnya, jika tidak dibangun dengan
content dan storytelling yang baik maka tidak akan bertahan
lama di pasar. Tetapi kadang kita suka tertarik pada komik
yang secara visual biasa, tetapi karena memiliki alur cerita
yang menarik maka kelemahan dalam hal visual sepertinya dapat
`dimaafkan' (belajar dari kasus Crayon Shinchan). Penting
pula untuk mempertimbangkan untuk siapa komik itu ditujukan dalam
penentuan content dan penyusunan storytelling.
Ketiga adalah faktor format komik yang paling cocok
dengan pembaca. Seperti yang diungkapkan Alva dan
Dee Dee bahwa format kecil yang dikeluarkan Elex untuk
lini komik impor Jepang-nya merupakan salah satu faktor
keberhasilannya menjadi booming: kecil, ringkas dan kompak.
Yang kadang dimanfaatkan untuk bisa membawa dan membaca komik
saat pelajaran sekolah karena dapat disembunyikan dibalik buku
pelajaran yang ukurannya lebih besar serta memungkinkan mencuri
baca dengan menyembunyikan di balik meja belajar misalnya. Format
kecil juga memungkinkan komik mudah dibawa kemana-mana tanpa takut
rusak, berbeda jika dikeluarkan dengan format yang lebih besar,
seperti format komik Amerika atau Eropa.
Format yang tidak biasa untuk pembaca dapat di'paksa'kan (seperti
yang dilakukan Elexmedia pertama kali, karena sebelumnya format
yang dikenal adalah format yang lebih besar) melalui jumlah dan
variasi buku. Dengan membanjiri pasar dengan beragam buku yang
berformat sama akan memaksa pembaca untuk menerima format tadi
dan lama kelamaan format tadi akhirnya menjadi format standar.
Meskipun demikian, tidak semua komik dapat diperlakukan dengan
format standar yang seragam karena terdapat komik-komik yang
memerlukan format yang lebih khusus. Pemaksaan format standar
pada komik-komik semacam ini dapat merusak tampilan bahkan nyawa
dari komik tersebut. Satu hal yang susah-susah gampang…
Keempat, faktor visual tetap memegang peranan dalam menarik pembaca.
Bahkan judul komik yang `beda' juga dapat menarik perhatian: antara
judul yang `familiar' dengan yang `asing'. Belum ditambah kecenderungan
masyarakat untuk lebih menyenangi produk luar dibandingkan produk
negeri sendiri. Perlu disadari bahwa komikus lokal meskipun
dipengaruhi gaya asing seperti gaya ilustrasi manga Jepang, tetap
memiliki kekhasan visual yang terasa lokalnya. Dan hal ini akan
segera terlihat oleh pembacanya. Hal ini dapat terjadi karena cara
belajarnya yang berbeda dengan komikus yang dijadikan acuan.
Mengenai hal ini, Kimura Tadao-sensei pernah membahasnya secara
lebih jelas (dapat dilihat pada resume tentang Asia in Comics 2004).
Ketertarikan untuk mengadopsi secara menyeluruh komik-komik luar
tampaknya menjadi trend pada komik-komik lokal saat ini. Cerita-cerita
dengan setting luar dan nama-nama karakter dengan bahasa asing,
serta tema-tema `tinggi' kerap dijumpai. Menarik untuk melihat
pada lini komik Korea yang tampaknya mulai
mendapat tempat selain komik-komik Jepang. Meskipun secara visual,
komik Korea memiliki kemiripan dengan komik Jepang, tetapi mereka
mampu menemukan cara khas yang membuatnya menjadi beda. Visualisasi
komik Korea menurut Alva terbilang keras dan kasar, dan kadang terlalu
`tajam' untuk bisa dinikmati pembaca, terutama yang terbiasa dengan
tampilan komik Jepang yang lebih halus (sistem raster, dsb). Tetapi
meskipun secara visual `mengganggu' tetapi komik Korea tetap menarik
karena memiliki content dan storytelling yang menarik, yang dapat
memaksa pembaca `memaafkan' dan memaklumi tampilan
visualnya.
Perbedaan antara komik Korea dan Jepang dapat dilihat pada perbedaan
kultur Korea yang mungkin memang lebih keras dibandingkan Jepang.
Perseteruan Korea Selatan dan Korea Utara, juga kehidupan sosial
ekonomi yang keras (Korea Selatan pernah mengalami depresi ekonomi
berat seperti Indonesia medio 1990-an), serta keinginan mereka
mengalahkan Jepang tampaknya menjadikan mereka memiliki kultur
yang khas dan ditampilkan dalam karya-karya mereka, seperti komik.
Ada tambahan menarik dari Pak Pri. Yang penting tidak hanya
content tetapi juga context. Bagaimana content komik tadi juga
berhubungan
dengan kultur masyarakatnya. Sehingga karya tadi tidak bicara
sendirian, tetapi merupakan representasi kondisi yang terjadi
pada masyarakat. Jika context tadi mampu untuk dijaga, maka
meskipun mengambil setting luar negeri sekalipun, kultur lokalnya
akan tetap tercermin seperti yang ditampilkan komik Jepang dan Korea.
Context lokal ini memang sudah berkali-kali diungkapkan.
Dan melihat contoh penerapan content dan context lokal ini
pada media televisi adalah salah satu bukti kedigjayaannya.
Dari beberapa serial sinetron yang sukses, seri seperti Si Doel
atau kini Bajaj Bajuri adalah satu dari sekian sinetron bertema
lokal yang sukses di pasaran. Seperti Bajaj Bajuri, dengan karakter
dan cerita keseharian yang terasa sangat biasa, tanpa bintang
yang cantik dan gagah bak superhero, mampu menyedot perhatian
pemirsanya sehingga memiliki rating yang tinggi. Ini dapat menjadi
bahan kajian yang menarik.
Apa yang tercermin dari sinetron bertema lokal ini mungkin dapat
diadaptasi pada komik bertema lokal pula. Metode bercerita yang
pendek-pendek, dengan serangkaian cerita lepas tetapi secara besar
tetap memiliki benang merah ditambah konsep cerita yang `nyeletuk'
mungkin dapat menjadi salah satu solusi dari masalah content dan context
tadi. Dan yang lebih penting adalah bagaimana menyebarkan virus
kesadaran content dan context ini pada kalangan yang lebih luas sehingga
lambat laun dapat menjadi mainstream. Memang ada kecenderungan untuk melihat
faktor keseharian dengan sebelah mata, karena kerap apa yang ditampilkan
kurang menarik. Keseharian adalah sesuatu yang biasa dilakukan, jadi
apa yang menarik dari hal itu? Belum lagi ada faktor `idealisme' serta
keinginan membuat cerita dan komik dengan setting yang hebat yang makin
meminggirkan keseharian tadi.
Diskusi ini tidak bermaksud mengatakan bahwa tema-tema fantastik
adalah hal yang salah. Seperti yang telah diungkapkan di atas,
dengan setting dan karakter luar negeri sekalipun asalkan adanya
kesadaran untuk melihat content dan context lokal akan membuat
karya kita lebih membumi dan dekat dengan pembacanya. Lagipula
tampaknya orang Asia memang juga menyukai cerita-cerita fantastik
(mahiwal dalam bahasa Sunda-nya…). Hanya saja keseharian memiliki
potensi yang sangat luas dan menarik, terutama karena apa yang
menimpa seseorang bisa saja terjadi pada orang yang lain, dan
membuat mereka
berbagi perasaan dan pengalaman yang sama. Tinggal kejelian
bagaimana untuk mampu menangkap poin-poin keseharian yang
menarik dan menceritakannya kembali.
Langkah lainnya adalah penting untuk bisa masuk dalam dunia
yang digeluti ini. Misalkan sebagai komikus penting untuk bisa
masuk dan merasakan menjadi pembaca komik sehingga betul-betul
tahu apa yang diinginkan pembaca. Ada jembatan emosi antara
komikus dan pembacanya.Mulailah dengan berpikir sederhana. Think
Simple. Act little but NOW. Ini lebih baik dari pada berpikir
tinggi-tinggi tapi tidak melakukan apa-apa. Sesi berikutnya dari
pengajian komik akan diisi Ngomik Ngabuburit lagi. Kali ini mau
mencoba `resep' di atas, dengan menyodorkan tema Kampanye Pemilu
serta pemilihan anggota DPD. Selamat mengamati dan mencari ide,
dan siapkan alat ngomik-nya untuk pengajian berikut.[*]
Resume oleh Hafiz Ahmad - 20 Maret 2004.
dikutip dari pengajian_komik_dkv@yahoogroups.com
mulai diadakan kembali pada Rabu, 17 Maret yang lalu. Untuk pertemuan
awal di tahun 2004 ini tidak ditentukan tema khusus, tetapi lebih
pada pemanasan forum diskusi serta introduksi buku "Tentang Komik:
Resume diskusi pengajian komik dkv" yang selesai dijadikan bentuk
buku awal Maret yang lalu.
Hadir pada sesi ini, Oyas, Dee Dee, Fattah dan Dyotami. Dari dkv
ada Alva, saya, Beny, Tyo dan kemudian menyusul Pak Pri dan Guntur.
Dan meski tidak memiliki agenda khusus, pembicaraan kemudian
mengarah pada kondisi komik dan penerbit lokal serta apa yang
dapat dilakukan komik lokal di 2004.
Perbincangan dibuka oleh Oyas yang bercerita tentang rencana
penerbit MQ yang hendak mengalihkan penerbitan komiknya dari
bentuk buku menjadi majalah. Satu langkah yang tidak biasa,
mengingat pengalaman penerbitan komik lokal dalam bentuk
majalah dan tabloid tampaknya
selalu mengalami kendala yang cukup berat. Tetapi menurut
Oyas, langkah ini diambil dengan beberapa pertimbangan.
Pertama adalah dalam sebuah industri (dalam hal ini adalah
industri komik) ada lima hal yang penting untuk diperhatikan:
marketing, marketing, marketing, marketing dan content.
Marketing menjadi hal penting karena dalam industri merupakan
indikasi keberhasilannya. Dan marketing sendiri memiliki
unsur-unsur yang cukup rumit. Misalkan dari sisi cash flow
atau aliran dana masuk dan keluar yang menjadi penggerak
industri selain adanya unsur distribusi, mafia
pasar (grup media yang kuat dan memiliki `wilayah'
kekuasaannya sendiri-sendiri), menjaga loyalitas agen-agen
pemasaran serta penetapan profit margin yang sangat
bervariasi antar toko-toko buku yang dirasakan masih terlalu tinggi.
Kedua adalah format majalah memungkinkan keuntungan tidak
hanya bersandar semata-mata pada faktor penjualan, tetapi
juga ditopang oleh faktor iklan dan juga kerjasama sponsor
dalam bentuk lain. Berbeda dengan format buku/komik yang
rata-rata sepenuhnya ditopang faktor penjualan.
Ketiga, format majalah memungkinkan perputaran/sirkulasi
yang lebih cepat dan teratur. Misalkan dengan penerbitan
dwi mingguan maka distribusi akan dapat segera terlihat
secara rutin, mengingat umur majalah yang tidak sepanjang
buku karena ada unsur waktu yang sedikit mengikat. Meskipun
hal ini akan `memaksa' pekerjaan yang berat untuk mampu
menjaga rutinitas dan kualitas penerbitan dengan skedul
dan deadline yang teratur.
Sepanjang tahun 2003 hingga awal 2004 juga memperlihatkan
beberapa fenomena menarik. Lini komik lokal tampaknya
semakin mendapat perhatian, dengan makin semaraknya
keberadaan komik lokal di pasaran melalui beragam penerbit,
baik besar maupun kecil. Pemain-pemain seperti Elexmedia
dan Mizan kini juga di'dukung' penerbit-penerbit alternatif
dalam penerbitan komik lokalnya.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah menilik hal yang
terjadi pada penerbit M&C yang tahun lalu begitu bersemangat
menerbitkan lini komik lokalnya, tetapi kemudian seakan
berkurang. Dan ini menarik untuk menjadi bahan telaah
khusus. Saat awal penerbitan komik lokal di era 1990-an,
hal yang marak diperbincangkan selain hubungan komikus
dan penerbit adalah bahwa salah satu kendala yang dihadapi
komik lokal adalah konsistensi komikusnya serta kurangnya
faktor distribusi dan promosi. Yang kemudian menjadi
`pertanyaan' dari apa yang dihadapi M&C adalah ketiga
unsur di atas (konsistensi, promosi dan distribusi)
tampaknya bukan menjadi masalah, terutama faktor promosi
karena M&C telah mengadakan launching besar-besaran untuk
lini komik lokalnya. Tampaknya yang menjadi faktor
pertimbangan yang cukup penting adalah perlu juga
memperhatikan kemauan pasar sebagai penerima produk.
Bicara tentang pasar negeri ini memang terbilang susah.
Susah untuk ditentukan dan ditebak maunya. Bisa dikatakan
selalu penuh dengan kejutan dan terkadang mengundang keheranan
(seperti yang diungkapkan Terence Choi maupun Kimura Tadao saat
mengetahui format majalah komik tidak terlalu berhasil di sini).
Dari diskusi yang terjadi ada beberapa pertimbangan yang
dijadikan hipotesis untuk mampu menjual dalam pasar negeri sendiri.
Pertama adalah pertimbangan antara kualitas dan kuantitas.
Ada yang berpendapat bahwa dengan harga yang sama dengan
kualitas yang lebih (misalkan buku dengan halaman sedikit
tetapi tampil full color dan cetakan baik) akan mampu
bersaing dan menarik pembaca seperti halnya yang lebih
menekankan pada faktor kuantitas (terbit hitam putih
dengan halaman yang lebih tebal, dengan harga yang sama
dengan yang terbit berwarna tadi). Tetapi tampaknya
mayoritas pembaca komik masih condong pada unsur kuantitas tadi,
biarlah mendapat kualitas yang `biasa' tetapi lebih puas
membaca karena komiknya lebih tebal.
Kedua adalah masalah klasik: content & storytelling. Dapat
dikatakan bahwa dua poin ini merupakan nyawa dari komik
sehingga penting untuk mendapat perhatian paling tinggi.
Sebagus apapun visualnya, jika tidak dibangun dengan
content dan storytelling yang baik maka tidak akan bertahan
lama di pasar. Tetapi kadang kita suka tertarik pada komik
yang secara visual biasa, tetapi karena memiliki alur cerita
yang menarik maka kelemahan dalam hal visual sepertinya dapat
`dimaafkan' (belajar dari kasus Crayon Shinchan). Penting
pula untuk mempertimbangkan untuk siapa komik itu ditujukan dalam
penentuan content dan penyusunan storytelling.
Ketiga adalah faktor format komik yang paling cocok
dengan pembaca. Seperti yang diungkapkan Alva dan
Dee Dee bahwa format kecil yang dikeluarkan Elex untuk
lini komik impor Jepang-nya merupakan salah satu faktor
keberhasilannya menjadi booming: kecil, ringkas dan kompak.
Yang kadang dimanfaatkan untuk bisa membawa dan membaca komik
saat pelajaran sekolah karena dapat disembunyikan dibalik buku
pelajaran yang ukurannya lebih besar serta memungkinkan mencuri
baca dengan menyembunyikan di balik meja belajar misalnya. Format
kecil juga memungkinkan komik mudah dibawa kemana-mana tanpa takut
rusak, berbeda jika dikeluarkan dengan format yang lebih besar,
seperti format komik Amerika atau Eropa.
Format yang tidak biasa untuk pembaca dapat di'paksa'kan (seperti
yang dilakukan Elexmedia pertama kali, karena sebelumnya format
yang dikenal adalah format yang lebih besar) melalui jumlah dan
variasi buku. Dengan membanjiri pasar dengan beragam buku yang
berformat sama akan memaksa pembaca untuk menerima format tadi
dan lama kelamaan format tadi akhirnya menjadi format standar.
Meskipun demikian, tidak semua komik dapat diperlakukan dengan
format standar yang seragam karena terdapat komik-komik yang
memerlukan format yang lebih khusus. Pemaksaan format standar
pada komik-komik semacam ini dapat merusak tampilan bahkan nyawa
dari komik tersebut. Satu hal yang susah-susah gampang…
Keempat, faktor visual tetap memegang peranan dalam menarik pembaca.
Bahkan judul komik yang `beda' juga dapat menarik perhatian: antara
judul yang `familiar' dengan yang `asing'. Belum ditambah kecenderungan
masyarakat untuk lebih menyenangi produk luar dibandingkan produk
negeri sendiri. Perlu disadari bahwa komikus lokal meskipun
dipengaruhi gaya asing seperti gaya ilustrasi manga Jepang, tetap
memiliki kekhasan visual yang terasa lokalnya. Dan hal ini akan
segera terlihat oleh pembacanya. Hal ini dapat terjadi karena cara
belajarnya yang berbeda dengan komikus yang dijadikan acuan.
Mengenai hal ini, Kimura Tadao-sensei pernah membahasnya secara
lebih jelas (dapat dilihat pada resume tentang Asia in Comics 2004).
Ketertarikan untuk mengadopsi secara menyeluruh komik-komik luar
tampaknya menjadi trend pada komik-komik lokal saat ini. Cerita-cerita
dengan setting luar dan nama-nama karakter dengan bahasa asing,
serta tema-tema `tinggi' kerap dijumpai. Menarik untuk melihat
pada lini komik Korea yang tampaknya mulai
mendapat tempat selain komik-komik Jepang. Meskipun secara visual,
komik Korea memiliki kemiripan dengan komik Jepang, tetapi mereka
mampu menemukan cara khas yang membuatnya menjadi beda. Visualisasi
komik Korea menurut Alva terbilang keras dan kasar, dan kadang terlalu
`tajam' untuk bisa dinikmati pembaca, terutama yang terbiasa dengan
tampilan komik Jepang yang lebih halus (sistem raster, dsb). Tetapi
meskipun secara visual `mengganggu' tetapi komik Korea tetap menarik
karena memiliki content dan storytelling yang menarik, yang dapat
memaksa pembaca `memaafkan' dan memaklumi tampilan
visualnya.
Perbedaan antara komik Korea dan Jepang dapat dilihat pada perbedaan
kultur Korea yang mungkin memang lebih keras dibandingkan Jepang.
Perseteruan Korea Selatan dan Korea Utara, juga kehidupan sosial
ekonomi yang keras (Korea Selatan pernah mengalami depresi ekonomi
berat seperti Indonesia medio 1990-an), serta keinginan mereka
mengalahkan Jepang tampaknya menjadikan mereka memiliki kultur
yang khas dan ditampilkan dalam karya-karya mereka, seperti komik.
Ada tambahan menarik dari Pak Pri. Yang penting tidak hanya
content tetapi juga context. Bagaimana content komik tadi juga
berhubungan
dengan kultur masyarakatnya. Sehingga karya tadi tidak bicara
sendirian, tetapi merupakan representasi kondisi yang terjadi
pada masyarakat. Jika context tadi mampu untuk dijaga, maka
meskipun mengambil setting luar negeri sekalipun, kultur lokalnya
akan tetap tercermin seperti yang ditampilkan komik Jepang dan Korea.
Context lokal ini memang sudah berkali-kali diungkapkan.
Dan melihat contoh penerapan content dan context lokal ini
pada media televisi adalah salah satu bukti kedigjayaannya.
Dari beberapa serial sinetron yang sukses, seri seperti Si Doel
atau kini Bajaj Bajuri adalah satu dari sekian sinetron bertema
lokal yang sukses di pasaran. Seperti Bajaj Bajuri, dengan karakter
dan cerita keseharian yang terasa sangat biasa, tanpa bintang
yang cantik dan gagah bak superhero, mampu menyedot perhatian
pemirsanya sehingga memiliki rating yang tinggi. Ini dapat menjadi
bahan kajian yang menarik.
Apa yang tercermin dari sinetron bertema lokal ini mungkin dapat
diadaptasi pada komik bertema lokal pula. Metode bercerita yang
pendek-pendek, dengan serangkaian cerita lepas tetapi secara besar
tetap memiliki benang merah ditambah konsep cerita yang `nyeletuk'
mungkin dapat menjadi salah satu solusi dari masalah content dan context
tadi. Dan yang lebih penting adalah bagaimana menyebarkan virus
kesadaran content dan context ini pada kalangan yang lebih luas sehingga
lambat laun dapat menjadi mainstream. Memang ada kecenderungan untuk melihat
faktor keseharian dengan sebelah mata, karena kerap apa yang ditampilkan
kurang menarik. Keseharian adalah sesuatu yang biasa dilakukan, jadi
apa yang menarik dari hal itu? Belum lagi ada faktor `idealisme' serta
keinginan membuat cerita dan komik dengan setting yang hebat yang makin
meminggirkan keseharian tadi.
Diskusi ini tidak bermaksud mengatakan bahwa tema-tema fantastik
adalah hal yang salah. Seperti yang telah diungkapkan di atas,
dengan setting dan karakter luar negeri sekalipun asalkan adanya
kesadaran untuk melihat content dan context lokal akan membuat
karya kita lebih membumi dan dekat dengan pembacanya. Lagipula
tampaknya orang Asia memang juga menyukai cerita-cerita fantastik
(mahiwal dalam bahasa Sunda-nya…). Hanya saja keseharian memiliki
potensi yang sangat luas dan menarik, terutama karena apa yang
menimpa seseorang bisa saja terjadi pada orang yang lain, dan
membuat mereka
berbagi perasaan dan pengalaman yang sama. Tinggal kejelian
bagaimana untuk mampu menangkap poin-poin keseharian yang
menarik dan menceritakannya kembali.
Langkah lainnya adalah penting untuk bisa masuk dalam dunia
yang digeluti ini. Misalkan sebagai komikus penting untuk bisa
masuk dan merasakan menjadi pembaca komik sehingga betul-betul
tahu apa yang diinginkan pembaca. Ada jembatan emosi antara
komikus dan pembacanya.Mulailah dengan berpikir sederhana. Think
Simple. Act little but NOW. Ini lebih baik dari pada berpikir
tinggi-tinggi tapi tidak melakukan apa-apa. Sesi berikutnya dari
pengajian komik akan diisi Ngomik Ngabuburit lagi. Kali ini mau
mencoba `resep' di atas, dengan menyodorkan tema Kampanye Pemilu
serta pemilihan anggota DPD. Selamat mengamati dan mencari ide,
dan siapkan alat ngomik-nya untuk pengajian berikut.[*]
Resume oleh Hafiz Ahmad - 20 Maret 2004.
dikutip dari pengajian_komik_dkv@yahoogroups.com

0 Comments:
Post a Comment
<< Home